Perbedaan Pasti Ada, Bagaimana IRT menghadapinya❓️

Haiii Lemonades🍋

aku mau curhat tentang #MasalahRumah dalam bertetangga, #PernahKahKamu merasa bingung saat ada acara besar di lingkungan rumah, terutama yang berkaitan dengan perbedaan kebiasaan sejak #PertamaKali kamu tinggal❓️

Tetanggaku adalah pasangan suami-istri paruh baya yang sangat baik dan sopan. Mereka sering mengadakan acara keagamaan di rumah, dan biasanya acaranya cukup ramai dengan tamu-tamu yang datang.

aku sama sekali tidak masalah dengan hal itu, namun yg membuatku gelisah adalah ketika momen ibadah berlangsung, nyanyian atau doanya terdengar cukup keras hingga ke rumahku dan bertepatan waktu adzan maghrib/isya (biasanya berkumpul malam). apalagi, aku seorang IRT dengan anak toddler, terkadang aku bingung menjelaskan hal ini ke anakku yang suka bertanya.

Sejauh ini, aku tak pernah menyinggung hal ini karena topik yang cukup sensitif. Biasanya aku hanya mengatasi dengan mengencangkan volume TV atau keluar rumah hingga acaranya selesai. Tapi aku juga sering bertanya-tanya, apa ini cara terbaik menjaga TOLERANSI?

Tetanggaku yg lain (yg juga punya toddler) kadang mengeluhkan hal yg sama kepadaku. tapi kami tak bisa berbuat apa², dan tak enak juga membahas hal ini.

menurut lemon babes, sebaiknya apa ya hal terbaik yg bisa di lakukan dalam situasi ini❓️atau adakah yang punya pengalaman serupa❓️sharing pengalamanmu dikolom komentar ya⤵️

Toleransi itu nggak mudah, tapi aku yakin, dengan saling MEMAHAMI, kita bisa menjaga KENYAMANAN bersama❤️

#lemon8irt #banggajadiirt

2025/1/28 Diedit

... Baca selengkapnyaAku sempat mikir, “Sebenernya aku ini kurang apa sih sebagai tetangga?” Soalnya di satu sisi aku nggak mau dibilang kurang toleransi, tapi di sisi lain aku juga punya kebutuhan: butuh suasana tenang pas adzan, butuh rumah nyaman buat anak yang masih toddler, butuh ruang buat ibadah sendiri. Aku mulai dari refleksi diri dulu. Aku tanya ke diri sendiri: apakah selama ini aku sudah menghargai mereka? Aku nggak pernah protes, tetap sapa ramah, kadang ikut bantu kalau mereka ada acara. Dari situ aku belajar, rasa gelisah bukan berarti aku orangnya nggak toleran, tapi wajar sebagai manusia yang butuh kenyamanan. Yang bantu aku banget adalah komunikasi pelan‑pelan. Bukan langsung ngomong soal volume atau waktu acara, tapi mulai dari bangun hubungan baik dulu: sering menyapa, kirim makanan kecil, atau sekadar ngobrol ringan di depan rumah. Saat hubungan udah hangat, biasanya obrolan sensitif jadi lebih mudah disampaikan dengan cara halus. Misalnya, bisa mulai dari curhat sebagai sesama manusia, bukan menuntut: “Kemarin pas acara rame, anakku sempat kaget dan nangis karena belum biasa dengar suara keras malam‑malam. Pelan‑pelan banget ya aku lagi adaptasi tinggal di sini.” Kadang dengan kalimat seperti itu, tetangga jadi paham tanpa merasa diserang. Aku juga belajar mengelola ekspektasi. Tinggal di lingkungan yang beragam berarti harus siap ada momen nggak nyaman. Jadi aku cari cara kompromi: siapin earplug kecil, atur jadwal tidur anak lebih fleksibel kalau tahu tetangga lagi sering adakan acara, atau pindah main sebentar ke ruangan lain yang lebih kedap suara. Masalah “aku kurang apa” juga nyangkut ke perasaan bersalah: takut jadi tetangga yang nggak enakan. Di sini aku ingat lagi, toleransi itu dua arah. Kita berusaha memahami mereka, tapi wajar juga kalau kita berharap dimengerti. Selama kita menyampaikan dengan sopan dan niat baik, nggak ada yang salah. Kalau kamu di posisi serupa, mungkin bisa mulai dengan: 1. Introspeksi dulu: apa yang sebenarnya kamu rasakan dan butuhkan. 2. Bangun kedekatan: jangan cuma muncul pas ada masalah. 3. Cari waktu yang tepat ngobrol: saat suasana lagi santai. 4. Pakai sudut pandang anak atau kenyamanan bersama, bukan menyalahkan. Pelan‑pelan aku belajar menerima bahwa “beda” itu normal. Bukan soal siapa yang salah, tapi gimana kita bisa saling memahami tanpa harus mengorbankan diri sendiri sepenuhnya. Di proses itu, pertanyaan “aku kurang apa” pelan‑pelan berubah jadi “apa yang bisa aku perbaiki dan komunikasikan lebih baik?”. Menurutku, itu juga bentuk toleransi ke diri sendiri.

21 komentar

Gambar wijirianisetyanin
wijirianisetyanin

apa setiap hari kak atau seminggu sekali

Gambar Miftah
Miftah

kak aku numpang cerita ya hehe, aku waktu di sulawesi tinggal di samping gereja. Tiap minggu denger lagu2 rohani. Tiap jumat murid2ku kebaktian di sekolah. pokoknya aku sampai hafal beberapa lagu rohani😂 Sejauh aku gak diajak ibadah, aku mah aman aja sih hehe

Lihat komentar lainnya