Anak Ngamuk karena Tidak dibelikan Skincare

Hi Lemonade 🍋

#ApakabarDunia kali ini tentang kasus seorang anak perempuan di Purwakarta yang mengancam ibunya dengan senjata tajam karena tidak dibelikan skincare. Jika dilihat videonya sungguh miris, anak ini banyak mengeluarkan makian dan kata-kata kotor kepada ibu dan perekam video serta orang disekitar. Diumur berapa #PertamaKali lemonade pakai skincare? Aku waktu kuliah baru mengenal apa itu skincare, waktu SMA cuma pakai bedak sama lipbalm, cuci muka pakai facial wash juga jarang-jarang. ABG jaman sekarang kadang Fomo beli skincare karena ikut-ikutan trend saja. Pernah aku razia make up di sekolah dan beberapa muridku ada yang pakai cream wajah yang tidak ada nomor atau barcode BPOMnya. Banyak yang ingin putih dan glowing instan padahal kulit orang Indonesia kan sejatinya kuning langsat dan sawo matang.

2025/2/2 Diedit

... Baca selengkapnyaJujur waktu pertama kali lihat video viral remaja yang mengancam orang tuanya dengan pisau gara-gara minta skincare, aku sempat mikir: kok bisa sedalem itu cuma karena produk kecantikan? Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini bukan sekadar soal skincare, tapi soal tekanan sosial, FOMO, dan hubungan anak–orang tua yang mungkin sudah lama nggak sehat. Sekarang di TikTok dan sosial media, video soal skincare remaja itu bertebaran. Algoritma sering banget ngasih konten "before-after" yang bikin kulit kelihatan putih dan glowing instan. Buat anak yang masih ABG, apalagi yang lagi labil, mereka bisa aja nangkep pesan: "Kalau kulitmu nggak seputih ini, kamu jelek". Lama-lama, standar kecantikan yang nggak realistis ini bikin mereka ngerasa rendah diri dan jadi nuntut orang tua buat nurutin semua keinginannya. Menurutku, yang paling penting adalah ngobrol terbuka soal skincare dan kesehatan mental. Kalau anak pengin beli skincare karena lihat video viral, coba ajak diskusi pelan-pelan: kenapa sih pengin banget? Beneran butuh, atau cuma ikut tren biar nggak ketinggalan teman? Dari situ, orang tua bisa jelasin juga kalau kulit orang Indonesia wajar banget kuning langsat atau sawo matang, nggak harus putih pucat seperti filter kamera. Soal produk, aku pribadi sekarang lebih milih ngajarin adik-adik atau muridku buat cek BPOM, komposisi, dan cara pakai yang bener. Krim abal-abal yang nggak ada nomor atau barcode BPOM biasanya murah dan hasilnya kelihatan cepat, tapi efek sampingnya bisa ngeri: iritasi, kulit menipis, bahkan rusak permanen. Daripada ngejar putih instan, mending fokus ke basic skincare: sabun cuci muka yang lembut, pelembap, dan sunscreen. Itu aja udah cukup banget buat usia remaja. Dari kasus yang viral itu, aku juga lumayan lega waktu baca kalau orang tuanya berencana bawa anaknya ke psikiater untuk konseling. Artinya, mereka sadar ada masalah yang lebih dalam dari sekadar skincare: bisa jadi soal emosi yang nggak tersalurkan, komunikasi di rumah, atau tekanan dari lingkungan. Menurutku, ke psikiater atau psikolog bukan hal memalukan, justru bentuk tanggung jawab orang tua ke anak. Buat kita yang cuma jadi penonton video, penting juga buat nggak asal nge-judge. Lebih baik jadikan pelajaran: kalau punya anak, adik, atau keponakan yang mulai kecanduan konten viral soal skincare, coba dampingi dari awal. Ajarkan mereka cara merawat diri yang sehat, cintai warna kulit sendiri, dan yang paling penting: jangan sampai hubungan keluarga rusak cuma gara-gara ikut standar kecantikan di sosial media.

15 komentar

Gambar Bunda Susan
Bunda Susan

iya itu anak gadis ya Allah...🥺🥺🥺

Lihat lainnya(4)