Lemon8Komunitas gaya hidup

Send To

Line
Facebook
WhatsApp
Twitter
Salin tautan

Dapatkan pengalaman lebih lengkap di aplikasi

Temukan lebih banyak postingan, hashtag, dan fitur di aplikasi.

Buka Lemon8
Buka Lemon8
Buka Lemon8
Jangan sekarang
Jangan sekarang
Jangan sekarang
  • Kategori
    • Untuk Anda
    • Food
    • Fashion
    • Beauty
    • Skincare
    • Home
    • Travel
  • Versi aplikasi
  • Bantuan
  • Indonesia
    • Indonesia
    • 日本
    • ไทย
    • Việt Nam
    • Malaysia
    • Singapore
    • US
    • Australia
    • Canada
    • New Zealand
    • UK
Situs web resmiKebijakan privasiPersyaratan LayananCookies Policy
Bab 10 "Kamu pikir saya datang ke sini hanya karena perintah keluarga, begitu? Aku m e n a h a n nap as, menatapnya dengan perasaan campur aduk. Wangi parfumnya yang dingin seolah memb eku kan kemampuanku untuk berpikir jernih sesaat. "Mau perintah keluarga, keinginan Bapak sendiri, atau k
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 2 P u k u l delapan malam, Ragendra pulang. Biasanya, Arunika akan segera bang kit, mengambil jasnya, menyiapkan makan dan minum. Malam itu, ia tetap duduk di meja makan, menyelesaikan catatan pengelua ran r u m a h. Ragendra muncul dengan jas di lengan dan dasi longgar. “Kamu tahu aku
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

(1)"Sistem itu, kalau sudah bicara soal hu kum dan a set, tidak akan peduli seberapa su ci niatmu mempekerjakan orang-orang kurang berun tung, Nduk Alya. Yang mereka lihat ... hanya ang ka merah di kolom tung gakan pa jak, toh?" Ucapan KRA Retnosari melun cur selembut sutra, tetapi menghan tam u
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 1 “Kau benar-benar tidak punya malu kalau masih menuntut cinta dariku, Arunika. Sejak awal, perasaan ini bukan milikmu.” Ragendra Adikara merapikan dasi sebelum berangkat kerja. Arunika berdiri di ambang ka mar. Ka mar Ragendra. Bukan ka mar mereka. Setahun menikah, Arunika ti du
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 9 Aku lari tung gang-lang gang menaiki a n a k tangga menuju ka m ar dengan jan tung yang masih berisik bukan main. Begitu sampai di k a m a r, aku langsung mengunci pintu dan menyan darkan pung gungku di sana. Na pas kurasakan mem b u ru, sementara waj ahku rasanya pan as sekali. Astagf
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 1 Oh iya, Bu. Apa Bu Tiara susah t i d u r sehingga harus minum o b a t t i d u r?" "Maksud, Dokter apa ya? Saya nggak ngerti." "Pada waktu melakukan tes d a r a h kami mendeteksi adanya o b a t t i d u r yang dikonsumsi bu Tiara. Itu juga salah satu pemicu kon trak si yang Ibu alami."
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 8 Sore itu suasana di ruang tengah benar-benar tidak kondusif. Papa dan Bang Kai masih sumringah soal perjodohan ini. "Pokoknya Aiko nggak mau!" seruku mena tap mereka t a jam. "Ryuma itu nggak nor mal, Pa!" pro tesku memberi kode ke Bang Kai. Tanpa izin, aku langsung meny am b ar tas
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

part 10 Mentari siang terasa terik ketika Putri menghentikan gerobak ciloknya tepat di depan pagar besi Pengadilan Agama. Ditatapnya bangunan megah bercat putih itu dengan d a d a berde bar ken cang. "Sudah cukup, Putri," bi siknya pada diri sendiri. "Kamu harus mengakhiri semuanya." U
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 5 "Bisa-bisanya kalian melakukan ini padaku," bi sikku pelan. Suaraku nyaris ter se dak di antara gelap malam saat taksi yang kutumpangi mem be lah jalanan menuju Jakarta. Aku menyan darkan kepala pada kaca jendela yang dingin, memandangi lampu-lampu jalanan yang mencoba lari dariku. Kup
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

part 9 Mentari sore mulai condong ke barat ketika Putri tiba di gang sem pit tempat kon tra kan nomor lima berada. Kedua tangannya penuh membawa kantong-kantong belan jaan. Di keranjang plastik birunya tersusun tepung tapioka, terigu, bawang putih, merica, hingga dua kilogram d a d a ayam seg
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Bab 7 Aku menatap kotak beludru merah itu seolah-olah di dalamnya ada b o m waktu yang siap me le dak kapan saja. Jantungku sudah kayak beduk mau lebaran, jedag-jedug bukan karena baper, tapi ngeri! Masa sehabis makan d a g i n g seukuran jempol tiba-tiba mengeluarkan cincin? Ini pasti cuma akti
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

"Bunda nanti saja ikutnya. Mobil udah penuh," ucap Alina, mena rik koper kecil bermotif kartun menuju mobil kantor. Aku menatap kursi belakang yang masih kosong. "Penuh? Itu kursi belakang masih long gar, Alina." Mas Arya menoleh, tata pannya dingin. "Barang kantorku banyak, Ren. Mas harus mamp
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 3B "Nah kan! Bener dugaanku! Jam segini mereka malah ken can di kafe kopi?" bis ikku pada diri sendiri. Ji w a det ektif ama tirku mendadak ban gkit. Aku nggak boleh lewatkan ini. Aku harus cari bukti supaya bisa laporin ke Papa atau setidaknya bisa nyeret Bang Kaito ke jalan yang benar.
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

(7) Sejak hari itu, kehidupan r u m a h tangga Kanaya dan Bramantyo berjalan seperti biasa. Bram sibuk di kantor, meski sering memberi alasan yang tidak sepenuhnya benar demi bertemu Elsa Syafitri. Kanaya tidak pernah mempersoalkannya. Ia bersikap seolah tak tahu apa pun, dan selama berbulan-
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 8 Dipikirnya perempuan yang sudah dibu ang itu akan terus menunduk saat d i h i n a di tengah pasar? Sama sekali tidak! 🔥💥 Pasar tradisional yang riuh itu menda dak hening seketika. Suara deru ta war-mena war le nyap, te riakan pedagang tertahan di teng gorokan, dan ratusan pasang mata t
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

BAB 5 "Ndri, jangan bikin Mas penasaran," kata Damar sambil mencondongkan t u b u h ke depan, "r u m a h siapa yang mau kamu ju al?" "Mas nggak usah tahu," jawab Indri dengan senyum misterius, "aku mau jual r u m a h sekalian sama s e t a n-se tannya." Damar hanya diam saja. Ia tahu watak In
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 3 A Aku berjalan menuju area parkir dengan pikiran yang masih dipenuhi bayangan Pak Ryuma dan Bang Kaito. Di satu sisi, aku merasa ka sihan sama Papa kalau rumor itu beneran. Di sisi lain, aku merasa lucu sendiri membayangkan pria sedingin Ryuma harus berbagi perasaan sama Bang Kaito
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Sejak kapan? Pertanyaan itu menghan tam kep ala tanpa jeda. Sejak kapan perempuan yang selama ini kukenal hanya sibuk dengan tepung, loyang, dan motor tuanya, bisa berdiri di sisi Pak Arkhan? Bukan sekadar kenal. Pak Arkhan tidak pernah memanggil bawahan dengan nada seakrab itu. Ia bahkan menyeb
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

(6) Saat mendengar putrinya bertemu sang suami di lobi, Kanaya langsung menyusul. Ia juga mengingatkan orang-orangnya agar tetap menjaga ra ha sia tentang dirinya. Bram melihat istrinya berlari kecil ke arahnya dan langsung memasang wa jah te gang. Ia berusaha m e n a h a n ke sal, tak ingin
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Part 7 Malam pertama di kon tra kan nomor lima terasa begitu sunyi. Putri duduk di atas tikar t i p i s, meme luk lutut sambil menatap langit-langit seng. Tidak ada suara Arga. Tidak ada te riakan Bu Rina. Hanya suara angin yang masuk melalui celah dinding papan. Air ma ta kembali ja
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

0 suka

Lihat lainnya
𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒
0Mengikuti
415Pengikut
133Suka dan simpan

𝐈𝐓𝐀𝕾𝖆𝖒

Postingan untuk yang suka membaca tulisan KBM. Bisa jasprom juga ya.