... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali cari aplikasi produktivitas, aku juga sempat bingung pilih mana di antara aplikasi seperti Notion, Todoist, dan Asana. Masing-masing punya kelebihan, tapi setelah dipakai beberapa minggu, kerasa banget kalau Notion itu yang paling fleksibel buat dipakai di berbagai aspek hidup.
Di laptop aku, ada satu workspace Notion dengan beberapa halaman utama: kerja, studi, rumah, dan konten. Di bagian kerja, aku bikin board ala Kanban mirip fitur di aplikasi manajemen tugas lain. Bedanya, di Notion aku bisa gabungkan task, catatan meeting, dan file referensi dalam satu card, jadi nggak perlu buka banyak aplikasi sekaligus.
Untuk studi, aku pakai template dashboard kuliah yang aku sesuaikan sendiri. Di satu halaman ada jadwal mata kuliah, to-do list tugas, dan folder catatan per mata kuliah. Dibanding aplikasi seperti Notion lainnya, yang biasanya fokus ke to-do list aja, di sini aku bisa simpan rangkuman materi, link video, sampai gambar, semua rapi dalam satu database.
Hal yang bikin aku makin yakin adalah ketika aku sadar Notion nggak cuma buat kerja atau sekolah. Di satu halaman lain, aku taruh resep makanan yang aku coba, lengkap dengan gambar sup miso, nasi goreng, dan catatan perubahan resep versi aku. Rasanya kayak punya buku resep digital yang tetap nyambung dengan kehidupan sehari-hari. Ini sesuatu yang jarang aku rasakan di aplikasi lain yang lebih kaku formatnya.
Aku juga pakai Notion buat catat laporan mingguan sebagai kreator di Lemon8: impresi, pengikut baru, like & simpan. Dibanding spreadsheet biasa, tampilan di Notion bisa lebih visual dan nyambung dengan catatan ide konten berikutnya. Jadi satu halaman bisa berisi data dan insight sekaligus.
Kalau kamu lagi cari aplikasi seperti Notion dan masih galau pilih yang mana, menurutku tipsnya: pikirkan dulu kebiasaan kamu. Kalau kamu suka analogi sederhana dan butuh satu tempat yang bisa diubah sesuka hati, Notion cocok karena bisa di-custom dari nol. Tapi kalau kamu maunya aplikasi yang strukturnya sudah jadi dan nggak mau ribet desain, mungkin aplikasi lain seperti Todoist atau Asana akan terasa lebih praktis.
Aku sendiri sempat merasa Notion itu "ribet" di awal, tapi setelah pelan-pelan bikin template yang sesuai gaya hidup, sekarang malah susah pindah ke aplikasi lain. Kalau kamu penasaran, boleh banget tanya di kolom komentar, atau share pengalaman kamu pakai aplikasi sejenis Notion. Siapa tahu dari diskusi kita bisa nemu cara pakai Notion atau aplikasi lain yang lebih cocok dengan rutinitas kamu.
lucuuu, sukak